Kendaraan listrikKomunitasMobilNasionalNiaga

Neta Setop Produksi Mobil Listrik di Indonesia Selama 6 Bulan: Kenapa dan Apa Artinya?

Kilasotomotif.id — Jakarta — Produsen mobil listrik asal Tiongkok, Neta Auto, dikonfirmasi telah menghentikan kegiatan produksi mobil di Indonesia sejak enam bulan terakhir, langkah yang mengejutkan para pengamat industri otomotif dan konsumen lokal.

Keputusan penghentian ini resmi disampaikan oleh pihak lokal PT Handal Indonesia Motor (HIM), mitra perakitan Neta di Tanah Air. Menurut Wakil Presiden Komisaris HIM, line produksi Neta saat ini telah berhenti dan belum beroperasi selama lebih dari setengah tahun.

Langkah ini memunculkan sejumlah tanda tanya, khususnya mengenai nasib produksi, dukungan purna jual, stok suku cadang, serta strategi bisnis Neta ke depan untuk tetap bertahan di pasar Indonesia.


1. Penyebab Utama Penghentian Produksi Neta

a. Restrukturisasi Perusahaan Induk di China

Penyebab utama yang dipaparkan oleh pihak Neta adalah proses restrukturisasi perusahaan induk, Hozon Auto, yang tengah berjalan di Tiongkok. Restrukturisasi ini diklaim sebagai bagian dari upaya penataan ulang operasional global perusahaan untuk meningkatkan efisiensi dan stabilitas bisnisnya.

Menurut pernyataan resmi, proses ini diharapkan selesai pada pertengahan tahun 2026, setelah itu Neta Indonesia diproyeksikan kembali dengan strategi yang diperbarui.

b. Dampak Restrukturisasi ke Indonesia

Meskipun restrukturisasi terjadi di luar negeri, operasional Neta di Indonesia tidak luput dari dampaknya. Mesin perakitan di fasilitas Bekasi, Jawa Barat, yang sebelumnya merakit model Neta V-II dan Neta X, kini dalam posisi tempat parkir produksi sambil menunggu instruksi serta arah bisnis baru.

Hal ini berarti bahwa produksi lokal yang semula menjadi bukti komitmen Neta terhadap industri otomotif Indonesia kini mengalami “freeze” tanpa kepastian tanggal restart. Namun pihak HIM menekankan bahwa penghentian ini “sementara”, bukan penutupan permanen.


2. Dampak Terhadap Pasar dan Konsumen

a. Stok Suku Cadang dan Purna Jual

Salah satu kekhawatiran terbesar masyarakat adalah ketersediaan suku cadang dan layanan purna jual. Namun, pihak Neta Indonesia meyakinkan bahwa stok bahan baku dan suku cadang masih tersedia di gudang lokal. Bahkan, unit mobil yang sudah dirakit tetap ada dan belum dibongkar.

Dealer resmi dan jaringan layanan purna jual juga diperbarui. Beberapa titik layanan yang disebutkan antara lain Otoklix, ANMA Mobil di Tangerang, dan sejumlah lokasi lain yang akan terus bertambah.

Pernyataan ini bertujuan untuk mengurangi kekhawatiran pemilik Neta bahwa mereka akan kehilangan akses terhadap dukungan teknis atau suku cadang selama proses produksi berhenti.

b. Rantai Pasar Dealer dan Aftersales

Meskipun bukan Dealer Principal, Neta Indonesia memperbaharui fokus pada jaringan dealer serta layanan purna jualnya. Penyesuaian ini dilakukan untuk memastikan konsumen tetap bisa servis, klaim garansi, serta mendapatkan dukungan purnajual yang layak.

Kebijakan ini juga mencerminkan strategi jangka panjang Neta untuk tetap mempertahankan kepercayaan pasar, meski produksi tengah terhenti.


3. Sejarah Singkat Produksi Neta di Indonesia

Untuk memahami konteks ini secara utuh, penting mencatat bagaimana Neta masuk dan berkembang di Indonesia:

  • Neta memulai kiprahnya dengan memperkenalkan model Neta V melalui pameran Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) dan kemudian menjualnya secara resmi.
  • Masuknya era produksi lokal terjadi dengan model facelift Neta V-II dan Neta X yang dirakit melalui skema completely knocked down (CKD) di fasilitas HIM di Bekasi.
  • Produksi lokal ini dimulai pada kuartal kedua tahun 2024, dan menjadi tonggak penting sebagai upaya memperkuat posisi Neta di pasar EV Indonesia.

Namun, produksi lokal ini berhenti pada Juli 2025, yang sesuai dengan pernyataan bahwa kegiatan sudah tidak berjalan selama enam bulan terakhir hingga awal 2026.


4. Perspektif Industri Otomotif & Kebijakan Pemerintah

a. Tantangan Mobil Listrik di Indonesia

Pasar mobil listrik di Indonesia masih menghadapi beragam tantangan, termasuk tantangan kebijakan insentif yang berubah, hambatan logistik, serta persaingan dari merek global maupun domestik.

Pemerintah Indonesia telah menargetkan untuk menjadikan negara ini sebagai pusat EV regional, dengan aturan yang mengharuskan produksi lokal untuk mendapatkan insentif. Aturan ini memberi tekanan bagi produsen seperti Neta untuk segera menetapkan basis produksi tetap jika ingin mempertahankan daya saing.

b. Prospek dan Arah Ke Depan

Berhentinya produksi Neta mencerminkan sisi dinamis dari pasar otomotif global. Produsen harus beradaptasi dengan tekanan bisnis global, strategi penataan perusahaan induk, serta tuntutan pasar lokal. Dengan menyelesaikan restrukturisasi, Neta berpeluang relaunch atau memperbarui kehadiran produknya di Indonesia dengan pendekatan yang lebih terfokus serta berkelanjutan.

Pihak Neta sendiri menyatakan komitmen untuk menguatkan kembali jaringan dealer dan lini produk sepanjang 2026 sebagai bagian dari strategi pemulihan.


5. Kesimpulan

Penghentian produksi Neta di Indonesia bukan sekadar laporan operasional semata, tetapi juga refleksi dari tantangan dan realitas industri EV global. Proses restrukturisasi Hozon Auto menciptakan dampak nyata pada produksi lokal, namun stok suku cadang serta dukungan purna jual tetap disediakan untuk menjaga kepercayaan konsumen.

Dengan selesainya restrukturisasi dan penyesuaian strategi di dalam negeri, Neta berpotensi mengembalikan aktivitas produksi dan memperkuat posisi di segmen mobil listrik Indonesia yang terus berkembang pesat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *