DuniaKomunitasMotorViral

Max Biaggi Sebut Ducati Bukan Pabrikan Italia Sejati

Kilasotomotif.idJakarta, 13 Januari 2026 — Dunia MotoGP kembali diramaikan oleh pernyataan kontroversial dari satu nama legendaris: Max Biaggi. Mantan pembalap ini secara tegas menyatakan bahwa Ducati — salah satu merek motor Italia yang paling ikonik — bukanlah pabrikan Italia sejati meskipun berbasis di Emilia-Romagna, Italia. Pernyataan tersebut muncul saat Biaggi mengomentari dinamika persaingan antara pabrikan di kejuaraan MotoGP dan memicu reaksi kuat dari komunitas balap internasional.

Sebagai pebalap yang pernah dominan di lintasan dan kini menjadi duta besar Aprilia, Biaggi mengambil momen publik untuk membandingkan identitas nasional kedua pabrikan Italia besar, yaitu Ducati dan Aprilia. Menurut Biaggi, sikapnya ini bukan semata kritik olahraga, melainkan lebih terkait dengan identitas dan sejarah perusahaan di tengah globalisasi industri otomotif.


Asal Usul Pernyataan: Ducati, Audi, dan Identitas Nasional

Fokus pernyataan Biaggi tertuju pada fakta bahwa Ducati saat ini dimiliki oleh Audi AG, sebuah perusahaan asal Jerman. Meski Ducati tetap beroperasi dari markasnya di Borgo Panigale, Bologna, kepemilikan oleh Audi sejak 2012 telah memicu pertanyaan tentang apakah perusahaan ini masih dapat dianggap sebagai pabrikan sejati Italia.

Dalam wawancara tersebut, Biaggi dengan jelas menyebutkan bahwa Ducati tidak lagi mewakili pabrikan Italia “sejati” di MotoGP karena pengaruh kuat dari pemiliknya yang berkiblat ke Jerman. Ia bahkan menekankan bahwa Aprilia — yang tetap berada di bawah naungan Piaggio Group Italia — adalah satu-satunya pabrikan sejati dari Italia dalam kejuaraan tersebut.

Komentar ini langsung menjadi perbincangan hangat, terutama di kalangan peminat MotoGP yang menilai Ducati selama ini identik dengan semangat balap Italia, baik dari sisi desain maupun sejarah. Kini, pertanyaan tentang ‘apa itu Italia?’ untuk sebuah pabrikan motor menjadi pusat perdebatan baru.


Max Biaggi: Dari Juara Dunia hingga Duta Aprilia

Max Biaggi bukan sekadar mantan pembalap biasa. Ia merupakan juara dunia empat kali di kelas 250cc dan dua kali juara dunia Superbike, dikenal dengan julukan Il Corsaro (The Corsair). Karier profesionalnya mencakup era persaingan sengit di MotoGP pada tahun 1990-an dan awal 2000-an, membuatnya dihormati sebagai salah satu pembalap paling kompetitif dalam sejarah balap motor.

Kini, Biaggi telah membangun hubungan kuat dengan Aprilia, pabrikan yang berbasis di Noale, Italia, yang diperkuat lagi sejak ia menjadi duta resmi selama hampir satu dekade. Dalam berbagai kesempatan, ia menyatakan kebanggaannya berafiliasi dengan perusahaan yang menurutnya lebih mencerminkan DNA Italia dalam semua aspek teknis, inovasi, dan budaya balap.


Apa yang Dipertanyakan Biaggi tentang Ducati?

Pernyataan Biaggi tak datang sepihak. Ia menggarisbawahi bahwa meski Ducati dibangun di Italia dan memiliki sejarah panjang dalam balap, kepemilikan perusahaan oleh produsen otomotif asing seperti Audi membuka ruang interpretasi baru:

  1. Kepemilikan Perusahaan: Ducati secara resmi menjadi bagian dari Audi AG, yang merupakan bagian dari grup Volkswagen asal Jerman. Hal inilah yang dijadikan dasar Biaggi menyatakan Ducati “teknisnya bukan lagi Italia.”
  2. Identitas vs Kepemilikan: Ia menekankan bahwa walaupun Ducati masih memproduksi motor di Italia, struktur kepemilikan global memberikan pengaruh besar pada arah strategi dan keputusan perusahaan.
  3. Bangga terhadap Aprilia: Sebagai duta Aprilia, Biaggi menonjolkan nilai keaslian identitas Italia yang masih melekat pada pabrikan berlogo Piaggio itu, terutama di medan persaingan MotoGP.

Pernyataan ini bukan mentah-mentah mematahkan prestasi Ducati di lintasan, tetapi lebih pada sebuah narasi baru terkait posisi mereka dalam konteks nasionalisme industri otomotif.


Reaksi Dunia MotoGP dan Industri Otomotif

Komentar Biaggi datang di tengah momentum Ducati yang semakin kuat di MotoGP, terutama setelah meraih banyak kemenangan musim lalu, termasuk berbagai gelar juara dunia. Pabrikan asal Bologna ini tetap menjadi kekuatan dominan di lintasan, dengan pembalap seperti Francesco Pecco Bagnaia dan Marc Márquez membawa Desmosedici GP25 menjuarai banyak seri.

Namun, pernyataan Biaggi tak hanya berbicara soal performa. Ia juga menyinggung perjalanan Ducati sejak diakuisisi Audi dan bagaimana hal itu mengubah persepsi banyak fans MotoGP terhadap jati diri pabrikan tersebut. Banyak penggemar dan pengamat balap kini memperdebatkan apakah kepemilikan oleh grup asing secara otomatis menghapus status ‘Italia’ sebuah brand, atau apakah semangat dan budaya lokal masih cukup kuat untuk mempertahankan identitas itu.

Reaksi terhadap pernyataan Biaggi pun bermacam-macam: sebagian mendukung pandangan bahwa Ducati kini terlalu terpengaruh oleh entitas global, sementara yang lain menolak klaim tersebut dengan alasan bahwa identitas suatu pabrikan tidak semata ditentukan oleh kepemilikan saham.


Ducati di Tengah Kehidupan MotoGP Modern

Selama beberapa dekade, Ducati telah menjadi simbol prestise dan inovasi dalam balap motor. Bermarkas di Borgo Panigale, Ducati mulai merambah ke kompetisi tingkat dunia dan kini menjadi pemain dominan di MotoGP dengan kejayaan yang tak terbantahkan.

Meski begitu, perdebatan tentang identitas sebenarnya dari pabrikan ini menunjukkan bagaimana globalisasi dan akuisisi korporat dapat memengaruhi persepsi publik — bahkan dalam dunia olahraga motor yang sangat mengedepankan sejarah dan budaya mekanik.


Kesimpulan: Pertarungan Identitas di Balap Modern

Pernyataan Max Biaggi yang menyebut Ducati bukan pabrikan Italia sejati membuka lembaran baru dalam diskusi tentang apa yang mendefinisikan sebuah brand otomotif dalam era global. Apakah hanya soal lokasi pabrik? Atau lebih pada siapa yang memegang kendali strategis perusahaan tersebut? Biaggi jelas ingin menegaskan bahwa Aprilia, sebagai pabrikan yang tetap di bawah bendera Italia, merepresentasikan Italian spirit yang sejati di MotoGP saat ini.

Dengan musim balap 2026 yang semakin dekat, pernyataan ini berpotensi memicu narasi kompetitif baru antara pabrikan — bukan hanya soal performa di lintasan tetapi juga soal kebanggaan nasional dan identitas merek. Di dunia MotoGP yang terus berkembang dan terhubung secara global, isu seperti ini bisa saja berdampak jauh di luar hanya sekadar statistik balapan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *