Puluhan Merek Mobil Listrik China Terancam Bangkrut di 2026
kilasotomotif.id -Industri kendaraan listrik (EV) di China menghadapi tantangan besar menjelang tahun 2026. Setelah bertahun-tahun mengalami pertumbuhan pesat, puluhan merek mobil listrik kini berada di ambang krisis finansial. Tekanan penjualan, berkurangnya insentif pemerintah, dan persaingan harga yang ketat mendorong industri ini memasuki fase seleksi alam.
Para analis menilai tahun 2026 akan menjadi periode penentuan bagi banyak produsen EV, khususnya pemain kecil dan menengah. Merek yang gagal menciptakan diferensiasi produk dan menjaga arus kas berisiko tersingkir dari pasar.
Permintaan Mobil Listrik Mulai Melambat
Permintaan kendaraan listrik di China tidak lagi tumbuh secepat beberapa tahun lalu. Pasar mulai menunjukkan tanda kejenuhan setelah lonjakan pembelian yang kuat pada periode sebelumnya. Konsumen kini lebih selektif dan tidak lagi terdorong oleh euforia awal adopsi teknologi listrik.
Penurunan laju pertumbuhan ini memberikan tekanan besar pada produsen yang mengandalkan volume penjualan tinggi. Banyak merek masih mencatatkan kerugian operasional dan bergantung pada ekspansi pasar untuk bertahan. Ketika pertumbuhan melambat, model bisnis tersebut menjadi semakin rapuh.
Insentif Pemerintah Mulai Dikurangi
Selama bertahun-tahun, pemerintah China mendorong adopsi kendaraan listrik melalui berbagai insentif. Kebijakan tersebut mencakup pembebasan pajak pembelian dan dukungan fiskal lain yang signifikan. Namun, mulai 2026, pemerintah secara bertahap mengurangi insentif tersebut.
Pengurangan insentif ini berdampak langsung pada harga jual kendaraan listrik. Tanpa bantuan pajak penuh, harga EV menjadi kurang kompetitif bagi konsumen tertentu. Situasi ini terutama merugikan merek kecil yang tidak memiliki skala ekonomi untuk menekan biaya produksi.
Overkapasitas dan Persaingan Ketat
China memiliki jumlah produsen kendaraan listrik yang sangat besar. Kondisi ini menciptakan overkapasitas produksi dan memicu persaingan harga yang ekstrem. Banyak merek menawarkan diskon agresif demi mempertahankan pangsa pasar.
Perang harga ini menggerus margin keuntungan industri secara keseluruhan. Perusahaan dengan modal terbatas kesulitan bertahan dalam kondisi tersebut. Mereka harus memilih antara memangkas biaya secara drastis atau menghentikan operasional.
Tahun Penentuan bagi Produsen EV
Para pengamat industri menyebut 2026 sebagai titik hidup dan mati bagi banyak merek kendaraan listrik di China. Produsen yang tidak mampu menghasilkan keuntungan atau mengamankan pendanaan baru kemungkinan besar akan keluar dari pasar.
Merek yang gagal menarik minat konsumen muda juga menghadapi risiko besar. Generasi muda menjadi target utama kendaraan listrik, terutama di segmen desain modern dan teknologi cerdas. Produk yang tidak relevan dengan selera pasar akan cepat ditinggalkan.
Dampak Perang Harga Berkepanjangan
Selama beberapa tahun terakhir, produsen EV saling berlomba menurunkan harga. Strategi ini memang meningkatkan penjualan jangka pendek, tetapi juga melemahkan struktur keuangan perusahaan. Banyak produsen menjual kendaraan dengan margin yang sangat tipis.
Perusahaan besar dengan efisiensi produksi tinggi masih mampu bertahan. Sebaliknya, produsen kecil menghadapi tekanan berat karena biaya produksi tidak sebanding dengan harga jual. Kondisi ini mempercepat konsolidasi industri.
Strategi Bertahan yang Terbatas
Sebagian produsen mencoba bertahan dengan memperluas pasar ke luar negeri. Ekspor menjadi salah satu strategi untuk mengimbangi lemahnya permintaan domestik. Namun, langkah ini membutuhkan modal besar dan kesiapan menghadapi regulasi di negara tujuan.
Beberapa perusahaan juga mengandalkan suntikan modal dari investor atau pemerintah daerah. Meski demikian, tidak semua produsen memiliki akses ke pendanaan tersebut. Perusahaan tanpa dukungan kuat berisiko mengalami kebangkrutan lebih cepat.
Dampak Global Industri EV
Krisis yang melanda industri EV China berpotensi berdampak global. China merupakan salah satu produsen kendaraan listrik terbesar di dunia. Jika banyak merek kecil keluar dari pasar, struktur industri global akan berubah.
Konsolidasi ini dapat memperkuat posisi merek besar yang tersisa. Namun, berkurangnya jumlah pemain juga dapat memengaruhi pilihan model dan harga kendaraan listrik di pasar internasional. Negara-negara yang mengandalkan impor EV dari China turut merasakan dampaknya.
Implikasi bagi Pasar Berkembang
Pasar negara berkembang, termasuk Asia Tenggara, selama ini menjadi tujuan ekspansi produsen EV China. Harga yang kompetitif membuat kendaraan listrik China diminati konsumen. Namun, jika sejumlah merek gulung tikar, ketersediaan model di pasar ekspor bisa berkurang.
Kondisi ini dapat mengubah strategi distribusi dan pemasaran kendaraan listrik di luar China. Konsumen mungkin akan menghadapi pilihan yang lebih terbatas dalam beberapa tahun ke depan.
Kesimpulan
Tahun 2026 diperkirakan menjadi titik balik penting bagi industri kendaraan listrik China. Puluhan merek menghadapi risiko kebangkrutan akibat penurunan permintaan, berkurangnya insentif, dan persaingan yang semakin ketat.
Produsen yang mampu berinovasi, menjaga efisiensi biaya, dan membangun merek kuat berpeluang bertahan. Sebaliknya, perusahaan yang gagal beradaptasi kemungkinan akan tersingkir dari industri. Konsolidasi besar pun hampir tak terhindarkan dalam perjalanan industri EV China ke fase berikutnya.

