Kontrol Emosi Saat Berkendara: Kunci Keselamatan di Jalan dan Pencegah Musibah
Kilasotomotif.id – Jakarta — Mengemudi bukan sekadar mengoperasikan kendaraan. Lebih dari itu, ini adalah proses kompleks yang menuntut situational awareness, keterampilan teknis, serta kendali emosional yang kuat. Pengendalian emosi saat mengemudi menjadi aspek krusial untuk mencegah insiden dan menjaga keselamatan diri sendiri maupun pengguna jalan lain.
Menurut Sony Susmana, Pengamat dan Training Director dari Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI), kegagalan mengendalikan emosional menjadi salah satu faktor utama yang memicu kejadian kecelakaan, baik minor maupun fatal. Dalam sebuah pernyataannya baru‑baru ini kepada ANTARA, ia menekankan bahwa tanpa self‑control, seorang pengendara rentan melakukan kesalahan yang berdampak besar pada keselamatan.
Emosi Berkendara: Ancaman yang Sering Diremehkan
Berkendara tidak hanya soal reaksi terhadap tanda lalu lintas atau kondisi jalan. Psikolog lalu lintas dan ahli perilaku manusia menyebut bahwa emosi negatif seperti marah, panik, dan stres dapat mengganggu fungsi kognitif dan pengambilan keputusan. Emosi yang tidak stabil membuat seseorang cenderung bereaksi impulsif—termasuk saat mengemudi.
Misalnya, saat macet, seorang pengemudi yang kehilangan kendali emosinya mungkin akan menutup jarak terlalu dekat, membunyikan klakson berlebihan, atau bahkan mengambil risiko berbahaya demi “menyusul” kendaraan lain. Perilaku emosional semacam ini tidak hanya meningkatkan kemungkinan tabrakan, tetapi juga berpotensi menciptakan konflik jalanan yang bisa berujung kekerasan.
Kasus Baru: Kecelakaan karena Kesalahan Pemahaman Teknologi
Baru‑baru ini, sebuah insiden kendaraan listrik yang mundur sendiri hingga menabrak bangunan menjadi sorotan publik. Dalam peristiwa itu, diduga posisi transmisi berada di gigi mundur (gear R) dan tidak dipindahkan ke parking (P) benar‑benar menjadi penyebab utama kecelakaan. Sony Susmana menilai hal tersebut menggambarkan kurangnya pemahaman teknologi sekaligus pengaruh emosi yang tergesa‑gesa selama mengemudi.
“Kejadian ini bisa terjadi karena pengemudi terburu‑buru atau kurang memahami sistem operational kendaraan,” ujar Sony.
Kejadian seperti ini belakangan viral di media sosial karena tidak hanya menyebabkan kerusakan properti, tetapi juga memicu diskusi lebih luas soal pentingnya pelatihan komprehensif bagi pengemudi, khususnya yang mengoperasikan kendaraan automatic modern.
Mengapa Emosi Bisa Membahayakan Selama Berkendara?
Secara psikologis, emosi yang tidak terkendali memengaruhi fungsi otak bagian prefrontal cortex, yang bertanggung jawab atas perencanaan, evaluasi risiko, dan pengambilan keputusan. Ketika emosi mengambil alih, kemampuan tersebut melemah. Situasi ini nyata terjadi saat seseorang menghadapi kondisi lalu lintas yang menegangkan, terjebak kemacetan, atau bersenggolan dengan kendaraan lain.
Contoh nyata lainnya: seseorang yang sedang tergesa atau marah mungkin tidak memerhatikan kondisi sekitar dengan baik, sehingga reaksi terhadap perubahan situasi menjadi terlambat atau tidak proporsional. Kecelakaan kecil pun berpotensi meningkat menjadi insiden besar karena keputusan emosional yang buruk.
Strategi Penting untuk Mengendalikan Emosi saat Berkendara
Mengontrol reaksi emosional tidak terjadi secara otomatis. Berikut beberapa strategi yang direkomendasikan pakar perilaku dan keselamatan:
🧠 1. Kenali Pemicu Emosi Anda
Setiap orang memiliki tekanan emosional tertentu. Mengenali hal-hal yang biasanya memicu rasa kesal atau panik menjadi langkah pertama untuk mengantisipasi reaksi berlebihan saat berkendara.
🎧 2. Lakukan Relaksasi Ringan
Tarik napas dalam beberapa kali saat mulai merasa gelisah atau marah. Teknik ini terbukti menurunkan ketegangan fisik dan mental secara instan.
🚶♂️ 3. Istirahat Sejenak Jika Diperlukan
Jika kondisi lalu lintas menimbulkan stres akut, lebih baik berhenti di area aman sejenak dan biarkan emosi stabil sebelum melanjutkan berkendara.
🎵 4. Musik & Suasana Tenang
Musik yang menenangkan atau tanpa suara bising dapat membantu menurunkan tingkat stres saat di jalan.
🚗 5. Pelatihan & Edukasi Berkendara
Perusahaan jasa transportasi atau komunitas pengguna kendaraan sebaiknya menyediakan pelatihan resmi bagi pengemudi untuk memahami kendaraan modern dan mengasah defensive driving.
Rekomendasi Ahli: Peran Perusahaan & Kebijakan
Sony Susmana mengingatkan pentingnya peran lembaga penyedia jasa transportasi dan pihak berwenang dalam meminimalisir kecelakaan akibat faktor emosional. Ia mengusulkan pelatihan soft skills seperti manajemen emosi, pengetahuan sistem kendaraan otomatis, serta simulasi situasi jalan nyata.
Selain itu, edukasi publik melalui kampanye keselamatan berkendara yang menekankan controlled driving environment seharusnya menjadi bagian dari program keselamatan nasional.
Kesimpulan: Emosi Terkontrol = Jalanan Lebih Aman
Keselamatan berkendara tidak semata berada pada kecepatan atau alat. Kendali emosional adalah bagian fundamental dari pengalaman mengemudi yang bertanggung jawab. Tanpa itu, risiko kesalahan meningkat drastis — dari kejadian sederhana hingga kecelakaan besar.
Dengan memahami akar emosi, menerapkan strategi pengendalian, serta terus meningkatkan keterampilan berkendara, setiap pengendara bukan hanya melindungi dirinya sendiri tetapi juga semua pengguna jalan.
