Harga BBM Sampah Plastik BSB Lebih Murah dari Pertamina
kilasotomotif.id – Harga BBM Sampah Plastik BSB Lebih Murah dari Pertamina
Inovasi pengolahan sampah plastik menjadi bahan bakar minyak atau BBM terus berkembang di Indonesia. Salah satu inovasi tersebut dilakukan Bank Sampah Banjarnegara (BSB), Jawa Tengah, yang mengolah limbah plastik menjadi bahan bakar setara bensin dan solar.
Menariknya, BBM hasil pengolahan BSB tersebut ditawarkan dengan harga yang lebih murah dibandingkan sejumlah produk BBM nonsubsidi milik Pertamina. Produk berbahan dasar sampah plastik itu dipasarkan untuk berbagai kebutuhan, termasuk kendaraan bermotor dan mesin pertanian.
Pengolahan sampah plastik menjadi BBM dilakukan menggunakan teknologi pirolisis. Melalui proses tersebut, limbah plastik dipanaskan untuk menghasilkan cairan minyak dan gas yang kemudian diproses kembali agar dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar.
BSB Produksi BBM dari Sampah Plastik
Bank Sampah Banjarnegara mengembangkan teknologi pengolahan limbah plastik sebagai solusi terhadap persoalan sampah yang sulit ditangani. Salah satu jenis sampah yang menjadi perhatian adalah kantong plastik atau kresek bekas yang umumnya memiliki nilai jual rendah di bank sampah.
Pada tahap awal, hasil pengolahan sampah plastik digunakan sebagai minyak bakar untuk kompor sumbu. Namun, pemanfaatan tersebut mulai berkurang seiring dengan perubahan kebiasaan masyarakat yang beralih menggunakan kompor berbahan bakar gas.
BSB kemudian melanjutkan pengembangan teknologi agar hasil pengolahan plastik dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan yang lebih luas. Pada 2019, BSB disebut berhasil mengembangkan katalis atau zat tambahan yang digunakan untuk meningkatkan kualitas minyak hasil pirolisis.
Teknologi tersebut kemudian dikenal dengan nama fast pyrolysis 5.0 atau Faspol 5.0. Sementara itu, produk bahan bakar untuk mesin diesel diberi nama Petasol.
Dalam proses produksinya, sampah plastik terlebih dahulu dipanaskan melalui mesin pirolisis. Proses ini menghasilkan cairan minyak dan gas. Cairan yang diperoleh kemudian melalui proses pemurnian menggunakan katalis hingga menghasilkan bahan bakar yang memiliki karakteristik menyerupai solar.
Harga BBM BSB Mulai Rp 12.000 per Liter
Pengurus Bank Sampah Banjarnegara, Muntoha, menjelaskan bahwa produk BBM setara bensin yang dihasilkan BSB dijual dengan harga Rp 12.000 per liter.
Sementara itu, produk untuk mesin diesel yang diberi nama Petasol dipasarkan dengan harga Rp 13.000 per liter. BSB juga memiliki beberapa tingkatan produk berdasarkan kualitas dan peruntukannya.
“Untuk yang setara bensin, kami jual Rp 12.000 per liter. Kalau yang Petasol Rp 13.000 per liter,” ujar Muntoha.
Berdasarkan pengujian menggunakan mesin uji internal, BBM setara bensin buatan BSB memiliki angka Research Octane Number atau RON 98. Angka tersebut secara parameter berada pada tingkat yang sama dengan Pertamax Turbo.
Adapun Petasol disebut memiliki Cetane Number atau CN 53. Angka tersebut menjadi salah satu parameter yang digunakan untuk menunjukkan karakteristik pembakaran bahan bakar diesel.
Meski demikian, angka oktan dan cetane tersebut belum dapat dijadikan dasar untuk menyatakan bahwa produk BSB sepenuhnya sama dengan BBM produksi Pertamina. Pengurus BSB menyampaikan bahwa pengujian laboratorium secara komprehensif untuk varian bensin masih belum dilakukan.
Perbandingan dengan BBM Pertamina
Jika dibandingkan dengan BBM nonsubsidi Pertamina, harga produk BSB terlihat lebih terjangkau.
Sebagai pembanding, harga Pertamax Turbo dengan spesifikasi RON 98 pada 1 September 2026 disebut mencapai Rp 19.600 per liter untuk wilayah Pulau Jawa. Dengan harga Rp 12.000 per liter, BBM setara bensin buatan BSB memiliki selisih sekitar Rp 7.600 per liter lebih murah.
Sementara itu, Pertamina Dex dengan CN 53 dibanderol sekitar Rp 25.200 per liter. Jika Petasol dijual Rp 13.000 per liter, terdapat selisih harga sekitar Rp 12.200 per liter dibandingkan Pertamina Dex.
Perbandingan harga tersebut tentu menarik perhatian karena bahan baku yang digunakan BSB berasal dari sampah plastik yang selama ini dianggap sebagai persoalan lingkungan. Melalui teknologi pengolahan, limbah tersebut diubah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.
Namun, konsumen perlu memahami bahwa kesamaan angka RON atau CN tidak otomatis menunjukkan kesamaan kualitas secara keseluruhan. Kinerja bahan bakar juga dipengaruhi oleh komposisi kimia, kadar sulfur, stabilitas, kebersihan, kandungan air, serta kesesuaian dengan spesifikasi mesin.
Belum Bisa Disamakan Sepenuhnya dengan BBM Pabrikan
BSB menegaskan bahwa produknya belum dapat disamakan secara menyeluruh dengan BBM pabrikan seperti Pertamax Turbo dan Pertamina Dex.
BBM yang diproduksi perusahaan besar seperti Pertamina melewati rangkaian pengujian mutu dan sertifikasi yang lebih lengkap. Produk tersebut juga memiliki standar teknis yang harus dipenuhi sebelum dipasarkan secara luas.
Salah satu aspek yang menjadi pembeda adalah kandungan sulfur. BBM komersial tertentu memiliki batas kandungan sulfur yang ditetapkan untuk menjaga kinerja mesin sekaligus mengurangi dampak emisi.
Sementara itu, produk BSB masih mengandalkan hasil pengukuran mesin uji internal untuk sejumlah parameternya. Oleh karena itu, klaim kesetaraan dengan BBM komersial perlu dipahami secara terbatas, terutama pada angka oktan atau cetane yang telah diukur.
Pengujian lebih menyeluruh tetap diperlukan untuk memastikan keamanan penggunaan, kestabilan penyimpanan, dampak terhadap komponen mesin, dan kesesuaian dengan standar bahan bakar yang berlaku.
Kapasitas Produksi Mencapai 180 Liter
Teknologi Faspol 5.0 yang dikembangkan BSB memiliki kapasitas pengolahan sekitar 200 kilogram sampah plastik. Dari jumlah bahan baku tersebut, mesin dapat menghasilkan sekitar 170 hingga 180 liter Petasol.
Jumlah hasil produksi bergantung pada kondisi sampah plastik yang digunakan. Bahan baku yang kering dan bersih dapat menghasilkan rendemen lebih tinggi. Dalam kondisi tertentu, rendemen disebut dapat mencapai sekitar 95 persen.
Namun, apabila sampah yang digunakan merupakan campuran bahan kering dan basah, hasil produksinya dapat turun menjadi sekitar 70 hingga 80 persen. Kondisi bahan baku menjadi faktor penting dalam menentukan efisiensi proses pirolisis.
Selain memproduksi BBM, BSB juga disebut telah mendistribusikan mesin pengolah sampah dan teknologi Faspol 5.0 ke sejumlah daerah di Indonesia. Distribusi tersebut turut disertai pelatihan operator agar penggunaan mesin mengikuti prosedur yang telah ditetapkan.
Dimanfaatkan untuk Mesin Pertanian dan Kendaraan
Petasol hasil pengolahan limbah plastik telah dimanfaatkan untuk sejumlah kebutuhan masyarakat di sekitar Banjarnegara. Penggunaannya mencakup mesin pertanian hingga kendaraan bermotor tertentu.
Pengembangan ini menunjukkan bahwa pengolahan sampah tidak hanya berpotensi mengurangi volume limbah, tetapi juga dapat menciptakan sumber energi alternatif. Sampah plastik yang sebelumnya sulit memiliki nilai jual dapat diolah menjadi produk yang memiliki manfaat ekonomi.
Meski begitu, penggunaan BBM hasil pirolisis pada kendaraan tetap perlu memperhatikan rekomendasi teknis. Tidak semua kendaraan dapat langsung menggunakan bahan bakar alternatif tanpa adanya pengujian dan kepastian mengenai kesesuaian spesifikasinya.
Pemilik kendaraan sebaiknya memastikan bahwa bahan bakar yang digunakan sesuai dengan rekomendasi pabrikan. Penggunaan bahan bakar yang belum memiliki standar mutu lengkap berpotensi memengaruhi sistem pembakaran, injektor, pompa bahan bakar, maupun komponen emisi.
Potensi Energi Alternatif dari Limbah
Inovasi BSB menjadi contoh bahwa persoalan sampah plastik dapat didekati melalui teknologi ekonomi sirkular. Limbah yang sulit terurai tidak hanya dipandang sebagai material buangan, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku untuk menghasilkan energi.
Walaupun demikian, pengembangan BBM dari sampah plastik masih menghadapi sejumlah tantangan. Tantangan tersebut meliputi konsistensi kualitas bahan baku, kebutuhan energi dalam proses produksi, pengendalian emisi, pengelolaan residu, serta pemenuhan regulasi dan standar keselamatan.
Dengan pengujian yang lebih lengkap dan pengawasan yang baik, teknologi pirolisis berpotensi menjadi salah satu pilihan dalam pengelolaan sampah plastik. Namun, penerapannya tetap harus dilakukan secara hati-hati agar tidak menimbulkan persoalan lingkungan baru.
Harga yang lebih murah dibandingkan BBM Pertamina menjadi salah satu daya tarik produk BSB. Akan tetapi, aspek harga perlu berjalan beriringan dengan jaminan mutu, keamanan, legalitas, dan kesesuaian penggunaan. Dengan demikian, inovasi BBM berbahan sampah plastik dapat berkembang secara berkelanjutan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

